Mahasiswa sebagai kaum intelektual mempunyai tanggung jawab moral untuk bergerak dan berkarya dalam “meluruskan” cita-cita demokrasi yang sesungguhnya.Demokrasi adalah suatu system negara yang dibentuk sepenuhnya untuk kemaslahatan bangsa dan negara.Namun,sangat disayangkan demokrasi dewasa ini malah disalahgunakan oleh konstitusi peramu demokrasi tersebut,sistem yang dibentuk sengaja di “bengkok-kan” dan di legitimasi dalam suatu peraturan perundangan yang membuka celah bagi kaum oportunis untuk memanfaatkan setiap celah yang ada demi kepentingan dirinya maupun kelompoknya,tak heran bilamana demokrasi birokrasi negara terkesan begitu “mahal”.
Kondisi pemerintahan pasca reformasi belum juga memberikan perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. kecenderungan untuk kembali merajalelanya pola-pola orde baru terlihat dengan jelas, salah satu indikasinya adalah semakin tingginya tingkat korupsi di negeri kita.Mahasiswa yang sesungguhnya sadar akan hal itu seharusnya mampu menyusun strategi kreatif, sebagai lentera perubahan, menjadi pemberharu pendidikan, sekaligus mampu menciptakan lingkungan intelektual yang terintegrasi dengan lingkup pemerintah yang harus dikawal dalam menjalankan system berbangsa dan bernegara.
Mengukur realita yang terjadi pada mahasiswa,terdapat dua dimensi perspektif yaitumahasiswa aktifis dan mahasiswa apatis.kedua perspektif mahasiswa tersebut terdapat jurang pemisah yang menjadi gep-gep bagi mereka yang berpandangan dan memiliki misi sangat berseberangan. yang kerap diklaim apatis oleh sejumlah aktivis mahasiswa hanya bisa tersenyum manis menerima realitas.
Merevolusi kesadaran. sebenarnya yang mesti kita benahi jika masih meyakini bahwa merekonstrusi perubahan ke arah yang lebih progresif adalah bagian dari salah satu tugas intelektual mahasiswa.mahasiswa apatis pun menyadari bahwa demokrasi hanya bagi oposisi. Namun bicara hak berpolitik,kedua perspektif mahasiswa tersebut mempunyai pandangan yang sama dalam meyepakati ekspektasi mereka terhadap pemimpin pemerintahan negara.hal ini di latar belakangi melihat kondisi negara yang sedemikian carut marut bak benang kusut yang tidak bisa terurai lagi,sehingga di butuhkan pemimpin yang bisa menjadi solusi dari permasalahan bangsa yang berkepanjangan ini.Dalam waktu dekat momentum pesta demokrasi 5 tahunan akan diselenggarakan di bumi pertiwi ini.Kalangan mahasiswa yang juga merupakan bagian dari masyarakat aktif & pelaku politik berkepentingan dalam menentukan sosok pemimpin yang ideal bagi mereka.
Cara dan
upaya yang dilakukan adalah mencoba menstimulasi atau menggali potensi calon
presiden yang akan di usungnya.Gayung
pun bersambut,pasangan calon presiden saling menjajakan rumusan visi dan misi,
program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi.Mencoba
meyakinkan kita yang saat ini terpogoh-pogoh dalam menyambung hidup.dan mereka “tampil” bak oasis di padang gurun yang
melegakan kerongkongan kita yang dahaga akan
kemerdekaan,keberdaulatan,keadilan,dan kemakmuran.
Boleh
saja mereka berteriak menggelegar bahwa ia akan melakukan ini dan itu yang
serba kolosal untuk Indonesia.dalil pembenaran mereka lakukan agar
mempercayakan tongkat-kepemimpinan Indonesia pada mereka.Dalam
substansi ini,diharapkan mahasiswa mampu bersikap cerdas dalam berasumsi
memilih pemimpin yang mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran untuk kepentingan
rakyat sepenuhnya walau harus berbenturan dengan konstituen partai
pengusungnya.
Antusiasme rakyat berkumpul pada momen maupun melakukan hal lainnya guna memenangkan capres tertentu adalah baik sebagai ajang pendidikan politik publik.Kampanye-kampanye pemenangan pun dilakukan dengan metodologi yang diupayakan dalam rangka meningkatkan elektabilitas pasangan yang diusungkan,tak jarang black campaign & negative campaign pun di lakukan untuk “menyikut” lawan politiknya.melalui berbagai media yang memungkinkan untuk disusupi.melalui media ( cetak/elektronik) , dunia maya (social media) maupun dunia nyata,Fenomena yang terjadi ini pun tak bisa memungkiri,emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi. diharapkan mahasiswa tidak melebur, menghilang, terganti dengan hal-hal negative dalam retorika kampanye yang di kumandangkan “penggila” kekuasaan ini,agar kita tak berujung pada sebongkah penyesalan sikap.namun,setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan oleh hati nurani.
Marilah kita sebagai mahasiswa yang merupakan actor intelektual dan merupakan pewaris demokrasi bangsa sekiranya mampu mengawal pesta demokrasi ini dengan bijak,independen, bersikap tanpa intervensi.Memilih pemimpin (presiden) adalah hak anda. Gunakanlah hak anda dengan bijak.Salam damai untuk bangsaku…Kondisi pemerintahan pasca reformasi belum juga memberikan perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. kecenderungan untuk kembali merajalelanya pola-pola orde baru terlihat dengan jelas, salah satu indikasinya adalah semakin tingginya tingkat korupsi di negeri kita.
Mahasiswa yang sesungguhnya sadar akan hal itu seharusnya mampu menyusun strategi kreatif, sebagai lentera perubahan, menjadi pemberharu pendidikan, sekaligus mampu menciptakan lingkungan intelektual yang terintegrasi dengan lingkup pemerintah yang harus dikawal dalam menjalankan system berbangsa dan bernegara.Mengukur realita yang terjadi pada mahasiswa,terdapat dua dimensi perspektif yaitumahasiswa aktifis dan mahasiswa apatis.kedua perspektif mahasiswa tersebut terdapat jurang pemisah yang menjadi gep-gep bagi mereka yang berpandangan dan memiliki misi sangat berseberangan. yang kerap diklaim apatis oleh sejumlah aktivis mahasiswa hanya bisa tersenyum manis menerima realitas.
Merevolusi kesadaran. sebenarnya yang mesti kita benahi jika masih meyakini bahwa merekonstrusi perubahan ke arah yang lebih progresif adalah bagian dari salah satu tugas intelektual mahasiswa.mahasiswa apatis pun menyadari bahwa demokrasi hanya bagi oposisi. Namun bicara hak berpolitik,kedua perspektif mahasiswa tersebut mempunyai pandangan yang sama dalam meyepakati ekspektasi mereka terhadap pemimpin pemerintahan negara.hal ini di latar belakangi melihat kondisi negara yang sedemikian carut marut bak benang kusut yang tidak bisa terurai lagi,sehingga di butuhkan pemimpin yang bisa menjadi solusi dari permasalahan bangsa yang berkepanjangan ini.Dalam waktu dekat momentum pesta demokrasi 5tahunan akan diselenggarakan di bumi pertiwi ini.Kalangan mahasiswa yang juga merupakan bagian dari masyarakat aktif & pelaku politik berkepentingan dalam menentukan sosok pemimpin yang ideal bagi mereka. Cara dan upaya yang dilakukan adalah mencoba menstimulasi atau menggali potensi calon presiden yang akan di usungnya.Gayung pun bersambut,pasangan calon presiden saling menjajakan rumusan visi dan misi, program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi.
Mencoba meyakinkan kita yang saat ini terpogoh-pogoh dalam menyambung hidup.dan mereka “tampil” bak oasis di padang gurun yang melegakan kerongkongan kita yang dahaga akan kemerdekaan,keberdaulatan,keadilan,dan kemakmuran.Boleh saja mereka berteriak menggelegar bahwa ia akan melakukan ini dan itu yang serba kolosal untuk Indonesia.dalil pembenaran mereka lakukan agar mempercayakan tongkat-kepemimpinan Indonesia pada mereka.
Dalam substansi ini,diharapkan mahasiswa mampu bersikap cerdas dalam berasumsi memilih pemimpin yang mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran untuk kepentingan rakyat sepenuhnya walau harus berbenturan dengan konstituen partai pengusungnya.Antusiasme rakyat berkumpul pada momen maupun melakukan hal lainnya guna memenangkan capres tertentu adalah baik sebagai ajang pendidikan politik publik.
Kampanye-kampanye pemenangan pun dilakukan dengan metodologi yang diupayakan dalam rangka meningkatkan elektabilitas pasangan yang diusungkan,tak jarang black campaign & negative campaign pun di lakukan untuk “menyikut” lawan politiknya.melalui berbagai media yang memungkinkan untuk disusupi.melalui media ( cetak/elektronik) , dunia maya (social media) maupun dunia nyata,Fenomena yang terjadi ini pun tak bisa memungkiri,emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi. diharapkan mahasiswa tidak melebur, menghilang, terganti dengan hal-hal negative dalam retorika kampanye yang di kumandangkan “penggila” kekuasaan ini,agar kita tak berujung pada sebongkah penyesalan sikap.namun,setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan oleh hati nurani.
Marilah kita sebagai mahasiswa yang merupakan actor intelektual dan merupakan pewaris demokrasi bangsa sekiranya mampu mengawal pesta demokrasi ini dengan bijak,independen, bersikap tanpa intervensi.Memilih pemimpin (presiden) adalah hak anda. Gunakanlah hak anda dengan bijak.Salam damai untuk bangsaku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar