....SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA....

Jumat, 03 Mei 2013

Bayang-Bayang-Bayang

Aku terus tersiksa oleh bayang-bayangnya, bayang-bayang seorang gadis, Tak sedikit pun aku lupa akan wajah ayunya, yang tersenyum manis, memandang ke arahku,melalui kaca rumahnya. aku benar-benar dibuat gila olehnya.bulan telah duduk di singgasana, ditemani jutaan dayangnya, namun masih saja aku enggan untuk menutup mata. Masih saja pikiranku melayang bebas, mengelupas ingatan akan satu paras.” Cahaya”. Begitulah aku menamainya, menamai gadis yang sejatinya tidak pernah dikenal.

Cahaya, gadis yang meski hanya sekejap memandang, namun sanggup membuatku melayang, gadis asing yang telah berhasil membuatku sinting, gadis yang sinar wajahnya telah mampu mengusir mendung dari jiwa yang telah lama terkurung, jiwaku.mentari telah membusungkan dadanya, memaksa peluh keluar dari tiap lubang pori, memaksa orang-orang untuk mengumpat dan memaki.

Tapi aku berbeda, aku bukan mereka. Pikirku, "Tak ada gunanya melakukan semua itu. umpatan dan makian tak mungkin sanggup mengusir mentari yang sedang kokoh berdiri, ia hanya tunduk kepada Ilahi." Dan aku pun mengerti. Semangat yang terpendar dari tubuh kurus yang sedari tadi berjalan bertelungkup, menelusuri realita hidup, perlahan meredup,terlalu dipaksakan hingga akhirnya meletup. Tubuh itu kalah, lelah.

Ku kibas-kibaskan topi lusuhku, sekedar memberi angin segar pada tubuh yang serasa terbakar dikala angin semilir malam menyapaku. cukup menyegarkan memang,terasa setidaknya itu bisa membuatku tersenyum meski sedang duduk termenung,seraya mengiang kenangan kala itu.kenangan yang terasa membekas indah dalam memory yang tak mudah terlepas. Kerinduan kini teramat besar menggerayam dalam tubuh, terutama hati ini.

Ada suara berdetak tak karuan di dalam dadaku, sesekali kucuri detik jam ditangaku untuk memandang sorot matanya, akan kubayar semua keingintahuanku, atau sekedar menebus rasa gelisah yang semakin memuncak, yang menelusuri setiap jalur peredaran darahku.tentu, hanya dengan memandang paras wajah cantiknya, aku mencoba berlayar menuju lautan kebahagiaan di ruang imajinasiku, meski petualang cinta itu belum dimulai.

Aku tak tahu, sampai kapan kusimpan gumpalan rasa yang semakin membuat diriku gelisah, bak perahu layar berada diketinggian ombak, terombang-ambing. Seandainya saja malam tak pernah memberiku kesempatan untuk merindukan sosok yang selalu menjadi topik utama di otakku, setidaknya aku akan terus menyimpan perasaanku, tapi jika setelah ini aku tersungkur tak berdaya, akan kutitipkan air mataku sebagai bukti cinta, cintaku yang diawali dari sebuah persahabatan bersama dirinya.hujan semakin membasahi pelataran bumi rumahku, entah kenapa ketika semakin deras ia turun, semakin deras pula aku teringat kepada sosoknya.

kadang aku menyesali nasib ini, kenapa aku menemukannya ketika aku berada dalam ketidakpastian. Apakah kedatangan dirinya kemarin bukan untuk melengkapi kerinduanku akan kelembutan cinta. keabstarakan menjejali dalam pikiranku dan aku kalah kali ini dengan sosoknya yang selalu membutakan hatiku,meredupkan langkahku,menggelapkan penglihatanku akan sosok dara lain disisi sana.namun semua tak menyurutkan hatiku tuk mengenyenangkan hatinya kala itu.

Seringkali kuputar ulang rekaman momen indah yang berada di otakku, hanya sekedar menghibur diri dari kepenatan, di mana aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyenangkan, menikmati putaran waktu bersama mereka. Tak semestinya aku merasakan semua ini dengan cepat, aku seperti berada di dalam pusaran waktu yang salah. Bagaimana mungkin itu terjadi? Sedang yang kurasa hanya sekejap mata. Dan tanpa kuminta, kehidupan ini pun pasti merampas orang-orang terkasih dari genggaman tanganku, meski telah kurekatkan jemariku memegang pundaknya.

Sekarang, jalan mimpi itu semakin curam adanya. Hanya segenggam kenangan yang masih melekat tanpa lagi berpihak, kerinduanku tak pernah sampai pada puncaknya, hanya berpacu dengan waktu lalu terkubur begitu saja. Mungkin tak seharusnya kujadikan itu sebagai rasa takut, lalu membawa jiwaku pada ruang yang  begitu hambar. Sungguh aku menginginkan dunia tanpa ada kepahitan dan rasa takut, Bukan saja karena aku merindukan sosok dirinya kembali berbinar di dalam hatiku, tak terlebih karena aku lelah menghitung detik jarum jam yang siap menghabisi kebersamaan kita.

Dengan cara apa aku dapat mengelak takdir perpisahan yang sudah terjadi saat ini? Karena yang ada, justru aku tak mampu mengeja kata cinta yang datang, cinta yang begitu hebat untuk dirinya. Sama seperti saat ia menggumam kehadiranku yang melahirkan senyum untuknya, untuk cinta diantara kita yang sempat bermekaran di taman kesegaran melati.kususur kembali jalan-jalan menuju jejak terhangat bersama dirinya, menguak sekat-sekat pelosok perkampungan, menapaki batas-batas kota, batas sekumpulan awan yang berada di atas kepalaku, menelisik kembali lorong-lorong tua yang lampau, hingga akhirnya, kali ini, dalam rintik hujan kian melebat, Aku merasa lelah, lusuh dan tak berdaya, tersungkur pilu di atas remuk puing kerinduan yang belum juga menggenap.

 Tak ada lagi jalan setapak yang melingkar-lingkar memaniskan riak hidupku, kala berlari-lari kecil wujudkan merdekanya dunia kanak-kanak. Tak ada! Tak ada lagi bukti kenang-kenangan itu. Sepi segala kenangan!.Perpisahan ini tak dapat kuelakkan, sehingga menjadi duri-duri tajam yang tak mampu kutepis. Seandainya aku dapat mengulur waktu ini barang sejenak, keinginanku adalah mencari sumber perkara, di mana ia pernah memutuskan satu hal di luar kesepakatan yang pernah menjadi tembok kuat hubungan diantara kita, dan akulah yang pada akhirnya melahirkan kegusaran luarbiasa.

Bukankah cintaku begitu sempurna? Aku tidak mengerti, kenapa harus kulewatkan kesedihan ini lagi? oh tidak!! Tuhan, biarkan aku menikmati sisa senyum yang ditinggalkan olehnya, karena pada saat itulah, aku cukup berada pada titik ketegaran. Walau di sisi lain, aku kian menimang kesedihan ini sendiri. Kepergiannya dalam lingkaran cintaku merupakan hal yang tak bisa kulupakan, juga kuhindari

Amateur Written,

_Sepri Aritonang_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar